06 Februari 2012

“BARAT: TIDAK!, TIMUR: BINGUNG...”

By: Made Pramono

Tulisan ini terinspirasi kritik saya sendiri ke seorang pembicara yang demikian bangganya bisa mereview puluhan teori kepemimpinan Barat, dan menggunakan hasil review dia untuk meneropong, mengkritik, dan menelanjangi kondisi negeri sendiri. Tanpa bermaksud menyudutkan hak dia untuk bebas berpetualang di lautan permasalahan intelektualitas, saya hanya sedikit mengingatkan di tulisan saya ini, bahwa kelatahan berteori a la Barat sesungguhnya dapat terjerumus ke penjajahan model baru yang mengikis kebanggaan kita untuk mengeksplorasi kearifan-kearifan Timur beserta sistem pemikirannya. Bisa saja ini akan terkait dengan konsep-konsep postkolonialisme, neoliberalisme, dll, tetapi saya mencoba menghindar berteori dari semua itu dan mengajukan pemikiran saya (murni logika pemikiran, yang mungkin juga sudah terjangkit virus westerisasi itu), untuk memotivasi akademisi yang hendak merevitalisasi local wisdom ketimuran.

Sebagian besar akademisi/peneliti di negeri ini memprodusir olahan teori Barat. Tak bisa dipungkiri, bahwa Barat dalam hal keilmuan (natural sciences maupun social sciences) lebih dulu beberapa langkah dari Timur. Suasana demokratisasi ilmu, keberlimpahan sistem dan fasilitas untuk melakukan riset, dan penghargaan atas terobosan ilmiah baru memang lebih unggul Barat. Hal ini (disadari atau tidak) merembes dan mengepung tradisi berpikir Timur. Sikap yang revivalis, akomodatif, dan yang hendak mengawinkan tradisi berpikir Barat dan Timur, ditampakkan oleh akademisi/peneliti Timur. Namun tampaknya memang kultur barat dengan dibantu oleh berbagai media dan teknologi yangmenyertai, pada akhirnya sampai di masa sekarang ini dengan kemilaunya yang menyudutkan pemikiran-pemikiran yang revivalis. Bahasan tentang ini sudah banyak yang menggali dan memetakan, saya mungkin generasi kesekian yang kemudian angkat bicara di level yang tidak megah ini, berharap minimal terurainya keresahan intelektual saya akan rangsekan tradisi Barat yang semoga tidak meninabobokan kita untuk kemudian “bangga dengan Barat, malu sebagai orang Timur”.

Masalahnya memang kultur Indonesia masih jauh dari ideal untuk melahirkan berbagai langkah terobosan untuk disegani pemikiran-pemikiran anak bangsa ini di dunia pemikiran internasional, apalagi di segani di negeri sendiri! Eksplorasi kearifan dan pemikiran Timur/Indonesia memang terus digencarkan, dan tentu diharapkan muncul teori-teori anak bangsa ini yang dirujuk, disitasi oleh akademisi-akademisi seantero dunia. Sembari terus berupaya ke arah itu, mengerem berteori full Barat adalah langkah yang bisa dilakukan sebisa mungkin untuk menyelamatkan generasi pendidikan kita (mahasiswa, siswa) dari rembesan kultur Barat ke dalam sistem dan pola pikir.

Sangat sedikitnya sitasi internasional kepada produk pemikiran Indonesia, bukan berarti terus kita kemudian malu sebagai akademisi Indonesia kan? Menurut saya, saatnya kita justru mengarahkan seluruh topik riset, perkuliahan, percobaan akademik kita kepada eksplorasi dan revitalisasi local wisdom..

(mungkin bersambung...)

1 komentar:

  1. ada kalanya mengagungkan negara lain dirasa tidak perlu. tidak semua aspek disana cocok untuk diimplementasikan di negara ini.

    BalasHapus