09 Maret 2014

Seri Jurnalistik 4: MENGENAL BENTUK TULISAN ARTIKEL, FEATURE DAN ESAI


A. Dasar-Dasar Pemberitaan

Berita digambarkan sebagai "konsep kasar permulaan dari sejarah" (Ben Bradlee) atau dapat juga dijelaskan sebagai "sesuatu yang penting, baru saja terjadi dan mempengaruhi kehidupan kita." (Freda Morris, NBC).
Keterkaitan dan relevansi. Agar suatu cerita mempunyai pengaruh maka cerita tersebut harus relevan dan untuk membuatnya relevan maka cerita tersebut harus mempunyai kaitan dengan pembacanya. Hal-hal yang terjadi disekitar kita kelihatannya lebih menarik dari pada hal-hal yang terjadi jauh di sana. Lebih besar akibat yang akan diterima oleh pendengar; baik dalam kehidupan, penghasilan maupun emosi mereka, semua itu akan lebih penting bagi mereka.
Segera. Berita adalah sesuatu yang sedang terjadi. Apa yang terjadi kemarin tidak berarti dan tidak perlu lagi disampaikan kecuali bila ada hal yang baru. Satu cerita bisa dikatakan berita bila ada hal yang baru.
Menarik. Berita harus mempunyai daya tarik tinggi dan luas. Keahlian dari seorang jurnalis adalah menarik relevansi cerita itu dengan pembaca dan menyajikannya dengan jelas berdasarkan fakta dan cara yang menarik sehingga pembaca akan mengetahui apa yang mereka perlu ketahui dan apa yang mereka ingin ketahui.
Mengandung unsur drama. Adegan tembak menembak, kekerasan, kebut-kebutan mobil, penyelamatan di puncak bukit adalah unsur-unsur yang diramu untuk membuat film. Bahaya, petualangan dan konflik menarik perhatian kebanyakan orang.
Menghibur. Meskipun tergantung dari gaya programnya, banyak editor berita merasa bahwa berita bisa saja menghibur sekaligus memberikan informasi. Saat ini keinginan untuk membuat pembaca tersenyum pada akhir buletin siaran radio dengan memberikan berita ringan sedang populer. Hal semacam ini disebut ……."dan akhirnya".

B. Sumber-Sumber Berita
Wartawan biasanya selalu berhubungan dengan orang-orang yang terlibat dalam pemberitaan. Mereka selalu mencari berita-berita berikutnya. Hubungan dengan manusia lain merupakan jalur hidup bagi para wartawan. Nama-nama dan nomor telepon orang-orang yang biasa membuat berita atau memberi komentar terhadap suatu pemberitaan harus disimpan dalam buku alamat. Dalam buku ini juga dicatat nama-nama dan telpon orang-orang yang ahli dalam bidang-bidang tertentu atau merupakan ahli dalam bidang tertentu.
Wartawan freelance. Mereka ini menjual tips atau berita. Mereka juga diperlukan bila wartawan staff tidak ada.
Pelayanan kawat dan kantor berita (Wires Service and News Agency). Termasuk di dalamnya pelayanan-pelayanan internasional seperti Reuters, Associated Press (AP), Agence France Presse (AFP), Flash, Beta, dsb. Mereka mempunyai reporter di seluruh dunia dan memberikan berita yang mungkin tidak dapat di akses sendiri oleh stasiun radio. Stasiun TV membayar langganan untuk memakai informasi dan potongan gambar yang disediakan.
Buku harian pemberitaan (News Diary) berisi informasi dari pos, tips dari wartawan dan cerita-cerita yang diketahui terlebih dahulu misalnya kasus-kasus pengadilan.
Menelpon untuk mencek (check calls). Menelpon secara rutin pelayanan-pelayanan darurat seperti; Polisi, Pemadam Kebakaran, Ambulan, Penjaga Pantai …… atau siapapun yang terlibat pekerjaan penyelamatan.
Siaran pers (press release) dikirimkan oleh perusahaan-perusahaan, kelompok-kelompok penekan, penguasa lokal, pemerintah, organisasi pokoknya siapapun yang menginginkan pesannya sampai pada masyarakat. Kadang-kadang termasuk di dalamnya rekaman untuk memberi ilustrasi pemberitaannya. Meskipun hal ini merupakan sumber berita yang berharga, tapi ini perlu diteliti untuk mengetahui apakah informasinya relevan dan bukan hanya merupakan publisitas gratis semata.
Konferensi pers, biasanya diadakan untuk memperoleh publisitas. Jadi harus selektif dalam menghadiri atau menyaring informasi darinya.
Media pemberitaan yang lain. Wartawan selalu memonitor satu sama lain. Meskipun demikian kita tidak menjalankan usaha berita daur ulang. Kalau anda mengambil berita dari suratkabar ingatlah bahwa berita itu mungkin bukan hanya tidak akurat tetapi juga sudah lama. Perlakukanlah berita-berita itu sebagai acuan saja. Cobalah periksa berita itu melalui wawancara mengenai kebenarannya dan cobalah menuliskan sesuatu yang baru………apakah ada sesuatu yang terjadi setelah artikel di surat kabar itu ditulis ………… apakah ada yang akan berubah, dsb.
Arsip, buatlah sebuah perpustakaan yang berisi arsip-arsip informasi yang mungkin berguna kelak dalam pembuatan suatu berita tertentu. Cantumkan tanggal-tanggal penting atau hari ulang tahun lembaga/instansi atau orang penting dalam buku harian anda. Jangan sekali-kali mendasarkan cerita anda pada sumber tunggal saja. Selalu ada dua sisi pada setiap cerita dan beberapa sumber ........ jadi periksalah semua.
Atribusi. Penting bagi pendengar untuk mendapatkan kejelasan SIAPA yang mengatakan APA. Sebagai contoh – jika sebuah bom baru saja meledak, seringkali terjadi perbedaan penghitungan jumlah korban meninggal atau luka-luka. Anda harus menyebutkan siapa yang memberi anda informasi tersebut, misalnya: ‘Polisi menyatakan bahwa 10 orang terbunuh tadi malam dalam sebuah ledakan di tengah kota Jakarta’. Jika ada sumber resmi lainnya yang menyebutkan jumlah angka yang lebih tinggi, anda bisa mengatakan: ‘walaupun begitu pihak rumah sakit menyebutkan jumlah yang meninggal 20 orang”.
Nama atau Anonim. Jika anda memiliki nama dari nara sumber anda, sebaiknya anda sebutkan. Ini akan membantu para pendengar memutuskan nilai pentingnya dari informasi tersebut dan seberapa akurat informasi tersebut. Sebagai contoh akan lebih baik jika anda sebut komentar dari ‘Gubernur DKI Jakarta’, daripada menyebutkan: ’seorang pejabat dilingkungan Pemda DKI’.
Saksi Mata. Saksi mata bisa menjadi sumber informasi yang sangat baik, mereka bisa memberikan nuansa ketersegeraan dan ‘warna’ kedalam laporan anda. Tapi bagaimanapun juga, mereka mungkin berada dalam keadaan syok – dan seringkali tidak bisa diandalkan untuk mendapatkan fakta yang objektif. Sekali lagi harus anda perjelas bahwa yang anda kutip adalah seorang saksi mata dan, jika mungkin, dimana mereka ketika kejadian berlangsung dan seberapa dekat mereka dengan lokasi kejadian.

C. Sudut Berita
Poin utama dalam berita harus selalu dimasukan dalam baris pertama. Anda harus mampu merebut perhatian pendengar cukup lama agar dapat memberikan rinciannya. Apabila pengaruh dari cerita itu diletakkan di bagian akhir, maka kemungkinannya pendengar anda sudah tidak mendengarkan lagi. Pikirkanlah apa pengaruhnya bila mereka mengetahui baris utama. Misalnya:
Ada pertemuan dengan para politisi penting.
Konferensi Pers diselenggarakan di hotel utama di daerah itu.
Mereka telah mendiskusikan berbagai posisi politis dan siapa yang akan menjabatnya.
Kesimpulan yang diambil adalah tarif telpon akan dinaikkan dua kali lipat
untuk menutupi biaya-biaya peralatan baru.
Sajian utama/top line dari berita itu seharusnya adalah "Tarif telpon akan dinaikkan dua kali lipat". Ini berpengaruh bagi pembaca. Hal-hal lainnya tidak begitu penting.

D. Bentuk-bentuk Tulisan di Media Massa
Apakah yang disebut sebagai Artikel? Masyarakat luas, mengangap semua tulisan di media cetak (koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter) sebagai artikel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artikel disebut sebagai: karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai di majalah, surat kabar dsb. Dalam ilmu jusnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan non fiksi berisi fakta dan data yang disertai sedikit analisis dan opini dari penulisnya.
Apakah yang disebut sebagai features? Feature sering diartikan sebagai tulisan khas di media massa. Dalam KBBI, entri feature tidak ada. Dalam kamus-kamus bahasa Inggris, feature diartikan sebagai: a distinctive or regular article in a newspaper or magazine. Dalam ilmu jurnalistik, features merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi, dengan karakter human interest yang kuat.
Apakah yang disebut esai? Menurut KBBI, esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Menurut kamus Webster’s (essay) adalah: a short literary composition of an analytical, interpretive, or reflective kind, dealing with its subject in a nontechnical, limited, often unsystematic way and, usually, expressive of the author’s outlook and personality. Menurut ilmu jurnalistik, esai adalah tulisan berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek/bidang kehidupan.
Apakah bentuk-bentuk tulisan lain di media massa? Yang paling banyak dijumpai di koran dan majalah adalah berita (news). Dalam dunia jurnalistik, news dikelompok-kelompokkan lagi menjadi spot news, stright news, interpreted news, interpretative news, news story dll. Selain itu masih ada bentuk-bentuk tulisan lain seperti reportase, information story, info grafis, resensi buku/film, tajuk, resep masakan, daftar harga dll.
Apakah yang disebut sebagai News (berita)? News atau berita adalah bentuk tulisan non fiksi berdasarkan sebuah peristiwa faktual, yang lazim disebut sebagai stright news (berita lempang atau berita langsung). Selain itu masih ada spot news (berita singkat); interpeted news (berita pendapat); interpretative news (berita dengan interpretasi); investigative news (berita penyidikan) dll.
Bentuk tulisan manakah yang paling mungkin untuk ditulis oleh pihak luar (bukan wartawan atau redaksi penerbitan tersebut)? Yang selalu diisi oleh pihak luar adalah artikel, opini dan esai. Yang kadang-kadang juga masih bisa diisi oleh pihak luar adalah feature dan reportase. Namun bentuk tulisan Opini dan Esai lebih sulit dipelajari dibanding dengan artikel. Sementara feature juga lebih mudah dikerjakan oleh bukan wartawan dibanding dengan reportase. Karenanya, bentuk tulisan artikel dan feature paling mudah dan bermanfaat untuk dipelajari oleh kalangan bukan wartawan profesional.

E. Tentang Artikel
Apakah yang disebut sebagai artikel dalam dunia jurnalistik? Dalam dunia jurnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan non fiksi (berdasarkan data dan fakta) dan diberi sedikit analisis serta pendapat oleh penulisnya. Biasanya, artikel hanya menyangkut satu pokok permasalahan, dengan sudut pandang hanya dari satu disiplin ilmu. Teknik yang digunakan umumnya deduktif – induktif atau sebaliknya.
Apakah beda artikel dengan interpretative news? Interpretative news juga merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi yang juga diberi opini oleh penulisnya. Namun kalau sebuah artikel sudah bisa ditulis hanya dengan bahan data dan fakta, maka interpretative news harus berdasarkan peristiwa faktual. Kalau artikel bisa ditulis oleh siapa saja, maka interpretative news biasanya hanya ditulis oleh intern wartawan atau redaktur dari penerbitan bersangkutan.
Apakah beda artikel dengan opini dan kolom? Dalam pengertian sehari-hari, artikel, opini, kolom bahkan juga esai dianggap sama dan bisa saling dipertukarkan tempatnya. Dalam dunia jurnalistik, opini dibedakan dengan artikel karena dalam opini, pendapat pribadi (buah pikiran) si penulis lebih diutamakan. Sementara dalam artikel, pendapat pribadi si penulis biasanya dikemukanan dalam bentuk analisis atau data dan fakta tandingan, yang berbeda dengan data dan fakta yang dijadikan bahan tulisan. Dengan adanya analisis serta data dan fakta tandingan itu, pembaca artikel diharapkan bisa mengambil kesimpulan sendiri. Kolom adalah artikel, opini, esai atau tulisan lain oleh penulis tetap, yang diberi ruang (rubrik) yang tetap pula.
Apakah beda artikel dengan esai? Dalam dunia jurnalistik, esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit. Meskipun dalam KBBI esai hanya disebut sebagai: karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. KBBI memang mewakili pendapat umum masyarakat yang menganggap esai sama dengan artikel, opini dan kolom. Padahal esai merupakan artikel yang dalam menganalisis, si penulis mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan subyektifitas yang khas dari penulisnya. Hingga penulis esai yang baik, dituntut untuk memiliki minat serta pengetahuan yang luas, dengan kepribadian yang khas.
Secara konkrit, bagaimanakah biasanya sebuah artikel ditulis? Artikel paling mudah ditulis dengan metode induksi atau deduksi. Dalam metode induksi, penulis berangkat dari sebuah contoh khusus, misalnya kasus korupsi untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang gejala korupsi. Dalam metode deduksi, penulis menggunakan cara kebalikan dari induksi, yakni menggunakan sebuah gejala umum untuk membuat kesimpulan terhadap contoh khusus. Misalnya, penulis menunjukkan bagaimana amburadulnya pengaturan lalulintas di suatu tempat, lalu gejala umum tersebut digunakan untuk menyimpulkan bahwa sebuah contoh kecelakaan lalulintas merupakan akibat dari gejala umum tersebut.

F. Tentang Feature
Apakah yang disebut sebagai feature? Kalau entri artikel sudah masuk dalam KBBI, maka entri feature masih belum ada. Meskipun demikian, di depan telah disebutkan bahwa feature dalam kamus-kamus bahasa Inggris diartikan sebagai tulisan khas (dengan karakter yang kuat) yang dimuat secara reguler di surat kabar atau majalah.
Apakah yang membedakan feature dengan berita (stright news maupun interpreted news) dan artikel? Berita lebih mengutamakan fakta dan data aktual (berdasarkan sebuah peristiwa aktual) yang ditulis secara lempang tanpa opini (stright news); dengan opini dari luar si penulis (intrepreted news) maupun opini dari si penulisnya (interpretative news). Artikel ditulis berdasarkan data dan fakta (belum tentu peristiwa faktual), diberi analisis dan opini (berupa fakta dan data tandingan) dari si penulis. Feature merupakan tulisan berdasarkan data dan fakta peristiwa aktual, namun meterinya diseleksi yang lebih menekankan segi human interest.
Ada berapa jenis featurekah yang selama ini dikenal dalam dunia jurnalistik? Ada puluhan jenis feature. Mulai dari feature tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam, sejarah, anthropologi, luar angkasa, hantu-hantu.
Apakah tema-tema berdasarkan bidang/sektor kehidupan bisa diangkat sebagai feature? Bisa. Misalnya bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dll. Sektornya mulai dari kesenian, pemerintahan, perdagangan dll. Namun dalam mengangkat bidang, sektor maupun komoditas yang lebih konkrit menjadi sebuah feature, penulis akan menekankan segi manusianya, binatangnya, tumbuh-tumbuahnya atau alamnya. Bukan menekankan segi permasalahannya. Hal yang terakhir ini lebih tepat diangkat menjadi artikel atau esai.
Secara konkrit, bagaimanakah sebuah feature ditulis? Misalnya ada kecelakaan pesawat terbang. Stright newsnya adalah berita tentang kecelakaan tersebut. Kemudian ada interpreted news dari maskapai penerbangan, pabrik pesawat, aparat perhubungan, pihak keluarga korban dll. mengenai kecelakaan tersebut. Ada lagi artikel dari seorang pakar cuaca yang mengulas kecelakaan tersebut dari aspek buruknya cuaca pada saat peristiwa terjadi. Feature yang bisa ditulis antara lain: 1 Mengenai istri/anak pilot yang menjadi korban; 2 Pacar pramugari yang juga menjadi korban; Petugas SAR yang tanpa kenal lelah membantu mengumpulkan jasad para korban dll. dengan menekankan segi human interestnya.

G. Tentang Esai
Apakah yang disebut esai dalam dunia jurnalistik? Kata kunci pada bentuk tulisan esai adalah adanya faktor analisis, interpretasi, dan refleksi. Karakter esai, umumnya non teknis, non sistematis, dengan karekter dari penulis (unsur subyektifitas) yang menonjol.
Apakah beda esai dengan artikel dan opini? Beda esai dengan artikel dan opini adalah, esai lebih mengutamakan faktor analisis secara individual. Sementara artikel lebih mengutamakan analisis dengan bantuan teori atau disiplin ilmu tertentu. Pada bentuk tulisan opini, pendapat pribadi penulis (bukan analisis) lebih diutamakan.
Benarkah semua penulis artikel dan sasterawan mampu menulis esai? Pertama-tama tidak semua wartawan dan sasterawan mampu menulis artikel dan feature. Kedua, tidak semua penulis artikel, feature dan sasterawan mampu menulis esai. Hanya sedikit wartawan dan sasterawan yang mampu menjadi penulis esai. Sebab bentuk tulisan ini termasuk yang paling sulit dikuasai. Namun penulis esai, hampir selalu bisa menulis artikel dan feature dengan cukup baik.
Mengapa esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit untuk dikuasai penulis?
Tingkat kesulitan esai, terutama disebabkan oleh karakternya yang non teknis dan non sistematis.
Hingga kekuatan esai hanyalah tertumpu pada daya analisis, refleksi dan karakter pribadi si penulis. Karenanya, teknik menulis esai dari seseorang, akan sulit untuk dipelajari dan ditiru oleh penulis lain. Sementara teknik menulis artikel dan feature dari seorang penulis kenamaan, bisa dipelajari dan ditiru oleh penulis pemula.
Bagaimanakah persyaratan agar seseorang bisa menjadi penulis esai yang baik?
Seorang peulis esai, dituntut memiliki tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual di atas rata-rata. Seseorang yang cerdas secara intelektual, lebih cocok untuk menjadi penulis artikel. Mereka yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual dan emosional tinggi lebih pas menjadi penulis feature dan opini. Kalau kecerdasan intelektual dan emosional itu ditambah dengan kecerdasan spiritual dan pengetahuan serta wawasan luas, maka dia bisa menjadi penulis esai yang baik.

H. Struktur Berita, Artikel, Feature dan Esai
Apakah yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik? Yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik adalah susunan, bangunan atau pola dari tulisan tersebut. Misalnya, pada  (bagian yangt) terbalik sumumnya struktur berita adalah piramida ( runcing berada di bawah).
Mengapa struktur berita berupa piramida terbalik? Piramida terbalik mengibaratkan bahwa bagian yang besar (isinya banyak, penting); berada di bagian atas. Makin ke bawah, bentuk piramida tersebut makin mengecil dan meruncing. Ibaratnya, makin ke bawah volume berita tersebut makin sedikit, sementara isinya juga menjadi kurang penting. Dalam kenyataan, isi sebuah berita sama saja. Misalnya, kalau di bagian atas dalam satu alinea terdiri dari 6 kalimat dan 30 kata, maka di bagian bawah bisa saja satu alinea malahan berisi 8 kalimat dengan 40 kata. Namun, kadar kepentingan dan kepadatannya (variasi informasi yang terkandung di dalamnya), justru lebih sedikit.
Bagaimanakah dengan struktur artikel dan feature? Artikel dan feature tidak berbentuk piramida terbalik melainkan balok sama besar. Bentuk demikian dimaksudkanzyang memanjang dari atas ke bawah untuk menunjukkan bahwa dalam artikel maupun feature, bagian yang paling atas, sama pentingnya dengan yang di tengah maupun yang di bawah.
Bagaimanakah detil komponen struktur artikel dan feature tersebut? Secara umum, semua tulisan selalu terdiri dari judul (bisa dengan atau tanpa anak judul) , nama penulis (bisa di atas bisa di bawah, bisa tidak ada), summary (ringkasan) atau etalase/intro; lead (kepala tulisan), body dan ending.
Apakah yang dimaksud dengan summary dan lead dalam artikel/feature? Banyak penulis bahkan redaktur penerbitan yang sulit untuk membedakan antara summary atau etalase atau intro dengan lead atau kepala tulisan. Summary, etalase atau intro, hanya dimaksudkan untuk “daya tarik awal” setelah pembaca melihat judul dan juga foto (dalam feature). Fungsi ini tidak terlalu penting jika dibanding dengan lead atau kepala tulisan. Dalam News, lead memuat sekaligus semua informasi (what, who, when, where, why dan how = 5 W 1 H) dalam satu alinea. Misalnya: Tadi malam pukul 22.30 WIB (when), telah terjadi kecelakaan lalulintas (what), di jalan tol Jagorawi (where). Kecelakaan tersebut terjadi antara (how) bus penumpang dengan truk gandengan (what). Dalam kecelakaan ini sebanyak 10 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka (how). Diduga kecelakaan terjadi karena bus tersebut mengalami pecah ban (why), dst.
Dengan hanya membaca lead sebuah berita, seorang pembaca sudah bisa tahu seluruh isi berita secara garis besar, tanpa harus melanjutkan membaca seluruh berita. Dalam artikel dan feature, fungsi lead adalah, untuk membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca sebelum tulisan selesai. Hingga fungsi lead tersebut justru untuk memberikan daya tarik, namun harus dibatasi hingga tidak semua informasi tuntas dalam sebuah lead. Karena fungsinya yang demikian penting, lead dalam artikel dan feature sering diibaratkan seperti serve dalam badminton, voley atau tenis.
Bagaimanakah tepatnya struktur sebuah esai? Sebagai sebuah tulisan, esai juga menuntut adanya jusdul, etalase, lead, body dan ending. Namun struktur secara keseluruhan tidak seketat dan sebaku pada artikel dan feature. Justru karena tidak adanya kebakuan tersebut, maka sebuah esai dari penulis kenamaan, sulit untuk dipelajari dan dicontoh oleh penulis pemula. Karakter esai yang non teknis dan non sistematis menjadi kendala untuk membakukan struktur penulisannya.

I. Metode Induktif dan Deduktif dalam Artikel
Seberapa pentingkah data dan fakta dalam sebuah artikel? Data dan fakta merupakan materi yang paling penting dalam sebuah artikel. Sebab tanpa data dan fakta yang kuat, maka artikel akan berubah menjadi opini. Misalnya, ketika terjadi sebuah kecelakaan lalulintas hebat yang menewaskan puluhan siswa SMU, maka seorang penulis artikel yang baik akan segera membuka file tantang kecelakaan lalulintas yang memakan korban cukup banyak, jenis kendaraannya, jumlah korbannya, lokasi dan waktu kejadiannya, penanganannya oleh pihak yang berwajib dll. Dengan data-data tersebut, si penulis artikel bisa membuat analisis sederhana dan menyimpulkan, apakah kecelakaan lalulintas di negeri kita selama sepuluh tahun terakhir ini meningkat atau menurun? Kalau meningkat mengapa? Kalau menurun mengapa? Sebab tekanan utama pada penulisan artikel adalah pada pertanyaan mengapa dan bagaimana.
Apakah penulisan artikel mutlak harus menggunakan metode induktif/deduktif?
Tidak harus. Bahkan sebenarnya tidak pernah ada pedoman baku bagaimana seharusnya sebuah artikel ditulis. Selain metode induktif deduktif, bisa pula digunakan metode thesis – antithesis dan sinthesis. Bisa pula dengan metode pengajuan pertanyaan 5 W 1 H yang akan dibahas lebih rinci pada bab VII dan VIII, khususnya tentang alinea.
Mengapa metode induktif/deduktif menjadi populer? Karena metode ini paling mudah diterapkan bagi para pemula. Misalnya, ketika terjadi bencana tanah longsor (contoh kasus = hal khusus), semua pihak pasti segera mengkaitkannya dengan penggundulan hutan dan perusakan lingkungan (gejala umum). Metode berpikir induktif ini juga bisa dibalik menjadi deduktif. Pertama kita kemukakan gejala penggundulan hutan dan perusakan alam dengan bergagai data dan faktanya, dari gejala umum ini, kita tarik kesimpulan pada contoh-contoh khusus yang sangat spesifik namun cukup kuat. Misalnya perubahan iklim makro, pemanasan global dll.
Apakah menulis artikel perlu latar belakang, tujuan, permasalahan dst?
Metode penulisan ilmiah dengan latar belakang, tujuan, kerangka pikir, permasalahan, pemecahan permasalahan, kesimpulan dan saran dsb, tetap bisa digunakan dalam menulis artikel. Namun dalam mengemukakan latar belakang misalnya, tetap harus digunakan data dan fakta aktual. Misalnya kalau kita menggunakan metode deduktif, kerusakan hutan dan lingkungan yang kita jadikan sebagai latar belakang, harus disertai dengan fakta dan data yang jelas, lengkap dan akurat. Analisis dan opini yang disampaikan pun, harus berupa data. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa perusakan hutan dan alam akan berakibat pada kerusakan seluruh ekosistem seperti telah terjadi di negara A, B dan C. Hingga kita perlu melakukan penghijauan dan reboisasi seperti telah dilakukan oleh negara D, E dan F yang dulu hutannya pernah rusak tetapi pulih kembali.
Bolehkah dalam menulis artikel kita hanya menggunakan pernyataan umum?
Tidak boleh. Sebab artikel demikian pasti akan ditolak oleh redaktur penerbitan yang bonafid. Misalnya kita menyebut bahwa: “Akhir-akhir ini telah terjadi penggundulan hutan dan perusakan alam secara membabibuta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dst.” Pernyataan tersebut sangat umum dan dangkal karena tidak disertai dengan fakta dan data. Beda kalau misalnya kita sebutkan bahwa: “Tahun ini sekian juta hektar hutan primer telah ditebang habis oleh pengusaha HPH di provinsi A, B, C dan D. Dibanding dengan tahun lalu, angka penebangan ini telah naik empat kali lipat dst.

J. Struktur Artikel Jurnalistik
Bagian isi artikel dalam media massa cetak secara umum terbagi menjadi 3, yakni teras (lead), tubuh (body), dan penutup (ending). Berikut penjelasan tentang struktur penulisan ketiganya.
a)      Teras (lead) terkadang disebut intro adalah alinea pembuka artikel. Teras ditujukan sebagai pengantar gagasan atau  pokok  pikiran penulisnya. Atau, teras ditujukan da-lam rangka menata pikiran pembaca agar mengetahui isi artikel  secara keseluruhan. Teras yang baik harus mampu memikat pembaca agar penasaran membaca terus.
b)      Tubuh (body) adalah  bagian  isi artikel yang merupakan uraian  pokok pikiran dari teras yang telah berhasil disusun. Uraian ini dibangun melalui sejumlah alinea.
c)      Penutup (ending) adalah bagian akhir dari penulisan artikel. Sebagai bagian dari artikel yang paling akhir dibaca hendaknya disusun agar dapat menimbulkan kesan yang mendalam bagi pembacanya dan berupa simpulan sementara atau simpulan akhir.

a. Model-Model Penulisan Teras (Lead):
1. Model 5W 1H (who, where, when, why, what, how)
    Contoh: Nurahmat (30) terkesiap ketika melihat rekannya, Peter Chow, membayar 5 dolar  AS  untuk  parkir  selama  1 jam 30 menit di kawasan Simpang Lima, Semarang.
2. Model Kisahan
    Contoh: Bajunya koyak-moyak. Wajahnya lebam seolah habis  dipukuli dan posisi jari-jari tangannya yang kaku seolah menyisakan sebuah perlawanan yang sengit dan keras, entah dengan  siapa. Sesosok mayat gadis belia tergeletak di tepi jalan raya Karangjati, Semarang. Pagi itu, sempat memacetkan lalu lintas hampir satu jam.
3. Model Pertanyaan
 Contoh: Benarkah Presiden Yudhoyono, yang belakangan  ini  sedang  pusing berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah, hanya punya hobi membaca?     
4. Model Kutipan Langsung
    Contoh: “Saya tak akan serta-merta mengubah komposisi kabinet saya, hanya gara-gara melemahnya nilai tukar rupiah”, ujar Presiden Yudhoyono kepada wartawan.
5. Model Deskriptif
    Contoh: Dari luar, gedung LPMP Jateng tak mengesankan sebuah institusi yang selama ini telah mendiklat  ribuan guru. Pasalnya, sosok gedung ini lebih mirip hotel dengan halaman luas yang asri dan  nyaman. Apalagi, bangunan gedungnya yang berkesan sebagai  tempat peristirahatan.
6. Model Ucapan Tokoh
    Contoh: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ungkapan Bung Karno ini, agaknya, masih pas untuk kita gunakan dalam menyelesaikan kemelut politik belakangan ini.
7. Model Menuding
    Contoh: Anda tentu masih ingat Ali Sadikin? Itu, lho, satu-satunya gubernur DKI Jakarta yang  paling  peduli  terhadap  Ibu Kota. Terbukti, pada musibah banjir tempo hari, ia langsung turun ke daerah-daerah paling rawan banjir.
8. Model Sapaan
    Contoh: Kawanku, pengelolaan  Semarang  sebagai ibu  kota  Jateng, belakangan ini, makin tak jelas. Kota boleh heran, mengapa  para  pejabat Pemerintah Provinsi Jateng tak mau mengurusi hal  itu, selain mengizinkan pembangunan mall secara gila-gilaan.
9. Model Parodi
    Contoh: Begitu saja, kok, repot. Mungkin begitulah yang ada dalam pikiran Mas Setiawan ketika harus menerima Astuti sebagai istri keduanya.
10. Model Figuratif
    Contoh: Bagai panas setahun dihapus hujan sehari, begitulah kesan terhadap lembaga Komisi Pemilihan Umum yang sejumlah anggotanya terlibat masalah korupsi.
11. Model Literer
    Contoh: Kisah Si Malin Kundang terjadi lagi di Bekasi, ketika Mustafa (18) kepergok tengah memukuli ibu kandungnya, Nyi Desi (41). Warga yang marah segera menghakimi Mustafa hingga babak-belur, Polisipun segera membawa pemuda pengangguran itu ke rumah sakit terdekat.
12. Model Penggoda
    Contoh: Pengumuman yang kita nanti-nantikan akhirnya muncul; ya, sekitar awal September 2005, kita bisa mendengar pengumuman Pemerintah tentang kenaikan harga BBM dan barangkali  juga  tarif listrik dan air.  
13. Model Ringkasan
    Contoh: Ada hal yang menarik dari penjualan apartemen kelas menengah di dua kota besar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, yakni  para konsumennya yang rata-rata berusia amat muda.
14. Model Stakato
  Contoh: Jelegur! Tret-tet-tet-tet! Jelegur! Tret-tet-tet-tet! Petasan terus berbunyi mengiringi langkah sepasang pengantin Betawi, yakni Bang Lilik dan Mpok Siti, kemarin siang di Pejaten, Pasar Minggu.
15. Model Dialog
    Contoh: “Masuklah! Anda siapa?”, ujar pemilik  rumah itu, seorang  wanita setengah baya yang  masih  menyisakan  kecantikannya, dengan ramah. Aku sejenak termangu. Pasalnya, aku  tak  mengenalnya. Apa aku salah alamat?   
16. Model Kumulatif
      Contoh: Masa kecilnya ia sudah mencuri mangga tetangga. Masa remajanya ia sudah berurusan dengan polisi gara-gara mencopet. Masa mudanya ia sudah merasakan sel penjara karena  memerkosa pembantu rumah tangganya. Kini, ia, Tuan Candra, adalah direktur akademi akuntansi yang sukses.
17. Model Kontras
      Contoh: Bibir Monase yang tebal tak bisa menyembunyikan sinar kecewa dari matanya, ketika mendengar Rohana, gadis yang selama ini diincarnya, akan melangsungkan pernikahan. Tubuh Monasi yang tinggi besar itu pun ambruk, tak kuat menahan kecewa.
18. Model Epigram
       Contoh: Ada ubi ada talas, ada budi ada balas, kiranya teoat  untuk  melukiskan hubungan antara AS dan Indonesia.     
 
b. Model-Model Penulisan Tubuh Artikel:
1. Model Spiral
    Contoh:     Terlepas dari masalah pro-kontra, tarif parkir mobil di Jakarta ada baiknya  dinaikkan dalam  jumlah  signifikan. Sebutlah  Rp 4  ribu sampai Rp 6 ribu per jam. Kalau langkah ini bisa dilakukan, rasanya warga akan sangat mengurangi perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Warga akan memilih kendaraan alternatif atau naik kendaraan umum.
                         Kenaikan tarif itu memang akan membuat publik berang, tetapi langkah itu, setuju atau tidak setuju, berpotensi  besar  mengurangi kemacetan lalu lintas, terutama di Jakarta. Sudah terlalu lama kita berdebat tentang upaya mengurangi kemacetan Jakarta. Berbagai langkah telah dilakukan, di antaranya menambah panjang dan lebar jalan. Akan tetapi, upaya ini terlampau lamban untuk mengimbangi percepatan pertambahan kendaraan, terutama mobil pribadi (Kompas, 5 Agustus 2005, hal. 33).

2. Model Rekatan menggunakan partikel penghubung atau penegas, seperti: tetapi, bahwa, oleh karena itu, yang, dan, selanjutnya, apabila, seperti, dengan, meski demikian, tatkala.
    Contoh:      Data satelit GSM dan NOAA tanggal 8 Februari 2002 mengindikasikan pertumbuhan siklon di tenggara Irian Jaya. Namun dari data pola angin yang ada, diketahui siklon ini tidak begitu berbahaya bagi wilayah Indonesia.
                        Meski demikian, satelit juga menangkap adanya liputan awan yang mulai bergerak ke arah timur menuju tekanan rendah di sebelah tenggara Irian Jaya. Sebab  itu, Sabtu  (9/2)  ini, kondisi hujan yang curahnya cukup besar masih terjadi  di Bali, Nusa  Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku  Selatan, dan  Irian Jaya bagian selatan (Kompas, 9 Februari 2002, hal.1). 

3. Model Blok, yaitu menyebarkan pokok pikiran ke dalam alinea yang terpisah-pisah.
    Contoh:      Aduh seram! Katanya ada aliran agama di Indonesia yang kerjanya tak lain menyuruh orang ambil jalan sesat keliru menuntun orang ke neraka jahanam.
                       Ah lega! Katanya ada pengawal agama yang tegas tuntas menjaga orang  dari  kesesatan,  kekeliruan,  kesalahjalanan. Maka  diobrak-abriklah si sesat itu, rumahnya, pengikutnya, ajarannya,  dan haknya untuk berada. Yang murtad harus musnah. Yang  salah  jalan harus dipaksa (…).
                       Alamak! Kok amburadul? Katanya ini  negeri  bhineka  tunggal ika. Ada 70.000 pulau, tetapi satu bangsa. Ada 700 bahasa dan dialek, tetapi satu  bahasa  nasional. Katanya  negeri  ini  ada  saling tenggang rasa harga menghargai baku terima, sama seperti di negeri seberang ada toleransi yang bikin hidup  nyaman  asri? (Kompas, 5 Agustus 2005, hal. 15).   
  
 4. Model Tematik, pokok pikiran yang terdapat dalam tiap-tiap alinea menegaskan teras.
    Contoh: Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Robert Waxler, mengemukakan, Pemerintah AS dan Presiden George W. Bush secara sangat jelas mengatakan  mendukung  integritas  Republik  Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
                        Pemerintah AS tidak  mendukung  gerakan  separatis  apa  pun yang berupaya melepaskan diri dari Indonesia, termasuk Papua.
             “Kebijakan Pemerintah AS jelas. Pernyataan Presiden Bush  juga sangat jelas ketika bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Washington. Kami, Amerika Serikat, mendukung integritas teritorial Indonesia…(…),” ujar Waxler seusai bertemu  Presiden  Yudhoyono  di  Kantor Presiden di Jakarta (Kompas, 5 Agustus 2005, hal. 2).     

5. Model Kronologis, yaitu merinci dan mengembangkan alinea berdasarkan hukum sebab-akibat atau peristiwa demi peristiwa.
    Contoh: Di tengah kebingungan dan ketidakpastian nasib Harcus, aku langsung diisolasi oleh keluarga di dalam kamar. Sebab, kalau  mendengar informasi yang sepenggal-sepenggal, nanti malah membuatku bingung. Sebelumnya Pak Masduki juga berpesan, menyangkut berita tentang Harcus, aku jangan mendengarkan informasi lain selain dari AURI.
                        Waktu terus merambat, hatiku semakin tidak karu-karuan. Sampai sore itu masih belum ada kepastian. Aku hanya  bisa  menangis dan terus berdoa. Begitu  tegangnya, tekanan  darahku  merambat naik. Tetanggaku, kebetulan banyak yang berprofesi sebagai dokter, terus mendampingiku. Mereka terus  berusaha  menguatkan  hatiku yang saat itu semakin tak menentu (Nova, 7 Agustus 2005, hal.44).         

c Model-Model Penulisan Penutup:
1. Model Simpulan, yaitu  merumuskan  antiklimaks  dari  keselu-ruhan persoalan yang telah  diuraikan  dalam  tubuh. Model  ini cocok untuk tulisan yang tubuhnya dikembangkan melalui mo-del kronologis.
    Contoh: Berat memang ditinggal Harcus. Tapi, aku  berusaha  tetap  tabah. Aku terima ini sebagai garis hidup. Aku yakin Allah punya rencana yang lebih baik di balik  musibah  ini. Selamat  jalan, Nak, semoga Tuhan memberi tempat  terbaik untukmu (Nova, 7 Agustus 2005, hal. 44).  

2. Model Menggantung, yaitu sengaja membuat pertanyaan atau pernyataan  yang  tidak  selesai,  menyentak,  atau menyengat. Model ini biasanya kita temukan dalam ending kisah horor atau spionase.    
     Contoh: Jadi, siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab terhadap ketertiban pedagang kaki lima?

3. Model Ringkasan, yaitu meringkas intisari persoalan yang ke-semuanya bermuara ke teras.
    Contoh: Bermimpi dan belajar meraih mimpi di sekolah-sekolah itu saja tidak                  cukup untuk menggapai sukses di dunia hiburan. Kiprah mereka setelah  lulus  dan  perilaku  produsen  industri hiburan yang tidak asal mencomot pemain dari “pinggiran” menjadi faktor lebih menentukan  (Kompas, 14 Agustus 2005, hal. 1).

Untuk contoh lengkap penggunaan struktur ketiga bagian isi artikel, perhatikan berita di bawah ini:
Jakarta  akan punya gawe. Yakni, SEA Games XIX. Tepatnya, pada Oktober 1997. Bayangkan, pada pesta sukan negara-ne-gara  Asia  Tenggara  itu  para  duta olahraga akan saling adu prestasi. Saling cepat, saling unggul, dan saling kuat.
Dalam  kacamata politik, ajang pesta sukan semacam SEA Games XIX ini boleh direferensikan pada semangat kesatuan dan persatuan antarbangsa. Atau, lebih luas, penyelenggaraan pesta sukan antarnegara dapat menjadi legitimasi  hegemonial (atau prestise) sebuah bangsa di mata bangsa lain.
Namun, dewasa  ini, ketika semangat  mondialisme  marak  di  mana-mana, masih layakkah kacamata politik itu kita kenakan untuk  melihat  penyelenggaraan  pesta  sukan semacam SEA Games XIX? Pasalnya, banyak  persoalan internal sebuah ne-gara  membuat masyarakat negara tersebut bersikap cuek ter-hadap  sebuah  event  olahraga kaliber dunia. Apalagi, jika itu persoalan sosial-ekonomi…(…).
Jadi, andai  tiba-tiba  menyadari bahwa penyelenggaraan pesta  sukan  semacam  SEA Games XIX lebih menarik ketimbang masalah KKN, berarti kita sudah  berbudaya olahraga. Cuma, mampukah kita memeliharanya? (Berita Buana, 25 Juli 1997, hal. 4). 

d. Memilih Referensi yang Relevan:
Mengutip  sumber  untuk artikel sebagai karya ilmiah populer tidak perlu sama dengan ketika mengutip sumber untuk makalah, skripsi, tesis, atau disertasi sebagai karya ilmiah. Cara pengutipan untuk artikel lebih sederhana dan praktis.

e. Beberapa Cara Menulis Kutipan untuk Artikel
1. Kutipan lengkap
Menurut AS Haris Sumdiria dalam bukunya Menulis Artikel dan Tajuk  Rencana, Bandung, Simbiosa  Rekatama  Media (2004: 19-41), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus  dilakukan secara berurutan.
2. Kutipan lengkap, tetapi tanpa menyebutkan halaman yg dikutip
Menurut AS Haris Sumadiria dalam buku Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Bandung, Simbiosa Rekatama  Media  (2004), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan. 
3. Kutipan hanya menyebutkan nama penulis dan judul buku serta tahun terbit
Menurut  AS Haris Sumadiria dalam buku Menulis Artikel dan Tajuk Rencana (2004), persiapan menulis artikel mencakup tujuh  langkah yang harus dilakukan secara berurutan.
4. Kutipan hanya menyebutkan nama  penulis, tetapi  tidak mencantumkan judul buku, kota, dan nama penerbit
Menurut AS Haris Sumadiria (2004:112), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan.
5. Kutipan yang hanya menyebutkan nama penulis, tetapi tidak mencantumkan judul buku
Menurut AS Haris Sumadiria (2004), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan.
6. Kutipan yang hanya menyebutkan nama belakang penulis, tahun terbit, dan nomor halaman sumber.
Menurut Sumadiria (2004: 112), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan.
7. Kutipan yang hanya menyebutkan nama belakang penulis dan tahun terbit sumber
Menurut Sumadiria (2004), persiapan menulis artikel mencakup tujuh langkah yang harus dilakukan secara berurutan.    

f. Syarat Referensi yang Dikutip:
  1. Relevan, berarti sumber rujukan yang digunakan harus sesuai dengan  topik  atau pokok bahasan artikel yang akan ditulis.
  2. Aktual, berarti  sumber  rujukan  yang dikutip itu haruslah yang terbaru  atau  terkini, misalnya  tentang: teori, model, pendekatan, data yang disajikan.
  3. Representatif, berarti mewakili atau memadai.
Contoh:                                                                                           
Topik: Gejala makin maraknya kasus korupsi yang dilakukan para anggota  DPRD di daerah-daerah. Penulis hanya merujuk pada satu sumber yang  mengulas tentang otonomi daerah. Berdasar-kan logika akal sehat mengatakan bahwa penyebab korupsi tidak hanya otonomi daerah, tetapi masih ada beberapa faktor lainnya. Beberapa faktor itu harus dicari dari sumber rujukan lain, bahkan mungkin dengan pendekatan yang berbeda pula. 
     
K. Faktor Human Interest dalam Feature
Apakah yang disebut sebagai human interest? Human interest bisa diartikan sebagai rasa kemanusiaan. Hingga feature yang disebut sebagai tulisan yang menekankan segi human interest dimaksudkan sebagai tulisan yang menekankan segi yang bisa menyentuh rasa kemanusiaan pembacanya.
Mengapa segi human interest paling diutamakan dalam sebuah feature? Karena berita (news) sudah ditampilkan dengan lugas dan dengan bahasa yang sangat formal. Dalam artikel, fakta dan data juga harus dianalisis dengan serius dan diberi opini yang juga harus serius. Agar pembaca media cetak tidak bosan, maka diperlukan sebuah bentuk tulisan yang menekankan segi human interest. Itulah sebabnya segi ini paling diutamakan dalam feature. Dalam perkembangan lebih lanjut, berita pun bisa dikembangkan menjadi news feature, feature reporting, feature story dll. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, feature juga melahirkan bentuk tulisan yang lebih baru (generasi baru) yang disebut sebagai How To Do It Article (HTDI). Cabang jurnalisme yang pertamakali memperkenalkan bentuk tulisan ini adalah jurnalisme kedokteran/kesehatan pada abad XVI dan XVII.
Apakah segi human interest tersebut sudah melekat pada meteri tulisan, atau merupakan kreasi penulisnya? Segi human interest dalam sebuah feature, harus benar-benar faktual (berupa fakta nyata) yang melekat pada materi (bahan) tulisan. Keterampilan penulis hanya dituntut untuk menyeleksi dan mengolah bahan-bahan tersebut, hingga ketika telah menjadi tulisan dan disampaikan ke pembaca, akan bisa menyentuh perasaan. Kalau segi human interest tersebut merupakan hasil imajinasi atau keterampilan berpikir si penulis, maka tulisan tersebut merupakan fiksi, bukan feature.
Apa sajakah yang bisa dikatagorikan sebagai human interest? Yang bisa dikatagorikan sebagai human interest antara lain: masalah percintaan; perjalanan/perjuangan hidup manusia, hewan, tumbuhan maupun alam (gunung api, bintang); kelahiran/kematian; penderitaan (misalnya derita TKI yang disiksa majikan di LN); ketabahan/ketegaran dalam menghadapi cobaan/godaan dll.
Apakah feature dengan tema penderitaan bisa digunakan untuk menjelek-jelekkan pihak yang mengakibatkan penderitaan tersebut? Bisa, namun feature tersebut akan menjadi feature propaganda. Nilai sebuah feature propaganda, akan lebih rendah dibanding dengan feature yang benar-benar hanya menceritakan penderitaan seseorang atau sekelompok orang. Sebab yang harus geregetan, marah dsb. adalah pembaca media massa, setelah membaca feature tersebut. Bukan penulisnya.

L. Kekuatan Individu dalam Esai
Apakah kekuatan individu penulis hanya dipentingkan dalam penulisan esai? Kekuatan karakter individu penulis, diperlukan dalam semua bentuk tulisan, mulai dari news, reportase, artikel dan feature. Namun bentuk-bentuk tulisan tersebut memiliki teknik dan sistematika yang jelas. Karenanya, penulis yang tidak terlalu kuat pun, tetap bisa menghasilkan news, reportase, artikel dan feature yang baik. Dalam esai, kekuatan individu lebih diperlukan karena tidak bakunya teknik dan sistematika.
Apakah yang disebut kekuatan individu dalam penulisan esai? Yang dimaksud sebagai kekuatan individu, terutama adalah faktor tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang di atas rata-rata. Namun kekhasan dari masing-masing individu akan sangat menentukan kualitas esai yang dihasilkan. Karakter khas yang kuat ini diperoleh bukan karena faktor teknik melainkan karena muncul dari dalam diri si penulis.
Dari manakah penulis esai memperoleh kekuatan karakter individunya? Kekuatan karekter individu, bukan diperoleh dari pendidikan formal, melainkan dari kekayaan pengalaman hidup, bacaan yang luas dan lingkungan pergaulan yang beragam. Meskipun faktor genetik, juga ikut pula mempengaruhi kekuatan karekter individu seseorang. Namun tanpa kekayaan pengalaman, luasnya bacaan dan variasi pergaulan, karakter dasar serta pendidikan formal belum merupakan jaminan kekuatan individu seseorang.
Apakah skil (keterampilan) juga diperlukan dalam penulisan esai? Skil tetap diperlukan dalam penulsan esai, namun hal tersebut bukan merupakan faktor utama. Sebab apabila skil yang diutamakan, maka esai yang dihasilkan justru akan merosot kualitasnya. Sebab esai justru diharapkan tidak dihasilkan sebanyak artikel, feature dan lebih-lebih news.
Apakah esai memiliki bobot lebih tinggi dibanding artikel dan feature? Esai tidak bisa dibandingkan dengan artikel dan feature, sebab masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Artikel lebih berfungsi untuk mengajak pembaca memahami suatu pokok persoalan. Feature digunakan untuk menggugah rasa human interest pembaca. Sementara esai bermanfaat untuk melakukan refleksi dan perenungan. Meskipun fungsi tiga bentuk tulisan ini berbeda, honorarium yang akan diterima oleh penulisnya sama.




Referensi

Ermanto, 2005, Wawasan Jurnalistik Praktis, Yogyakarta: Cinta Pena.

F. Rahardi, 2005, Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature, dan Esai untuk Pemula, Handout tidak diterbitkan.

Made Pramono, 2011, E-learning jurnalistik olahraga: http://ilmu.unesa.ac.id

Pape, Susan & Featherstone, Sue, 2005, Newspaper Journalism: A Practical Introduction, London: SAGE Publications Ltd.

Steen, Rob, 2008, Sports Journalism: A Multimedia Primer, New York: Routledge.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar