16 Mei 2011

10 AGRESI DALAM OLAHRAGA

MATERI 10
PSIKOLOGI AGRESI
A. Batasan Singkat
Barangkali tidak ada topik lain dalam psikologi yang mensyaratkan, bahkan menawarkan perhatian yang lebih daripada topik tentang agresi (violence). Agresi didefinisikan secara negatif sebagai tingkah laku yang bermaksud mengakibatkan luka/kerugian pada pihak lain. Sedangkan dalam pengertian yang relatif lebih netral, dalam Psikologi Olahraga tindakan agresi berarti atlit:

1. sangat termotivasi
2. menunjukkan pelepasan energi fisik yang besar
3. tidak terhalang oleh takut atau kemungkinan gagal atau terluka.
Dalam perekrutan atlit, pelatih sering melukiskan atlit yang diinginkan sebagai seorang yang “lapar, agresif dan seorang pesaing”. Jake Gaither, pelatih sepak bola legendaris dari Florida A & M University menginginkan atlit yang “mobile, agile, and hostile”. Atlit yang agresif adalah atlit yang paling diinginkan. Vince Lombardi mengatakan: “To play this game, you must have fire in you, and there is nothing that stokes fire like hate"
Agresi memang sering digunakan sebagai istilah inklusif untuk menggambarkan berbagai perilaku yang memuat permusuhan, melukai, dan kekerasan. Namun sebagaimana disebutkan di atas, ada keuntungan yang dapat diambil dari agresi, dengan mengetengahkan apa yang bukan sebagai agresi.
Sikap, emosi, atau motif…berniat menyakiti seseorang bukanlah agresi. Kemarahan dan pikiran boleh jadi berperan dalam perilaku agresi, tetapi keduanya tidak perlu atau membatasi karakteristiknya…Melukai secara tak sengaja bukanlah agresi…menendang bangku bukan…sadomaskistik dan bunuh diri [bukan agresi]… (Diane Gill)
Meskipun demikian, Barry Husman dan John Silva berpendapat bahwa agresi adalah “tindakan fisik maupun lisan yang bermaksud jahat yang dapat melukai fisik maupun psikis orang lain maupun diri sendiri”, ini berarti bahwa sadomasokistik dan tindakan bunuh diri, berbeda dengan Gill, merupakan contoh dari agresi. Demikian juga dengan kiriman email yang menghina penerimanya juga tergolong sebagai agresi. Namun Richard Cox menekankan bahwa agresif “merupakan perilaku yang ditujukan kepada orang lain dengan tujuan mengakibatkan luka fisik…harus ada harapan yang masuk akal bahwa usaha untuk mengakibatkan luka tubuh tersebut akan berhasil”.
Masih banyak ketidaksepakatan lagi tentang batasan agresi, namun dalam tulisan ini diajukan definisi bahwa agresi merupakan perilaku, atau kecenderungan berperilaku dalam cara tertentu, yang dimaksudkan ataupun dipengaruhi dengan kemungkinan yang dapat dikenali bahwa akan ada yang tersakiti, terlukai, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam makna ini, agresi sangat berbeda dengan apa yang saat ini dikenal sebagai keagresifan (aggresiveness) atau ketegasan (assertiveness). Keduanya berasal dari kata Latin aggressio yang berarti menyerang.
Secara konvensional, ada dua spesifikasi tipe agresi: permusuhan dan intrumental. Tujuan utama agresi permusuhan adalah untuk menyakiti orang lain: pemain sepakbola meyakini dia telah di-tackle dan berusaha membalas dendam dengan memburu dan meyerang kaki musuh tanpa berniat merebut bola. Sementara agresi instrumental memiliki tujuan khusus yang melampaui tujuan agresi itu sendiri dan maksud untuk melukai atau kesiagaan yang bisa menyebabkan luka pada orang lain itu semata-mata bersifat insidental: pemain sepakbola yang menyundul bola, tetapi di saat itu lututnya menghantam wajah lawan, tujuannya untuk menyundul bola dan agresi terjadi namun ditujukan untuk menghalangi lawan yang bisa menyebabkan gagalnya tujuan utama. Pada kedua kasus, perilaku agresif mengakibatkan luka dan sama sekali berbeda dari keagresifan atau ketegasan yang mencakup tindakan terarah tujuan sah meskipun tanpa maksud menyakiti lawan.
Perbedaan antara agresi permusuhan dan agresi instrumental tidak selalu jelas: dalam olahraga, semua agresi memiliki nilai, memiliki suatu tujuan, yakni kemenangan. Bahkan atlet yang dibuat sangat marah yang kemudian secara sengaja menggigit kuping lawannya a la Tyson juga termasuk dalam konteks kompetisi di mana tujuan akhirnya adalah kemenangan. Tindakan Tyson di tahun 1997 tersebut secara luas ditafsirkan oleh media sebagai lepasnya “sisi dalam kebuasan”, instink agresifnya menerabas keberadabannya. Beberapa kelompok pemikir mendukung tipe pandangan ini, keyakinan bahwa agresi merupakan dorongan natural.
Ethologis (yang mempelajari manusia dengan cara sama mempelajari makhluk lain) berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan instink agresif yang sangat berguna dalam rangka bertahan hidup sebagai spesies. Dengan itu manusia mempertahankan teritorial “alamiah” ketika diserang. Konrad Lorenz menulis bahwa agresi manusia seperti bentuk agresi makhluk lain, hanya saja manusia harus belajar untuk memberi jalan pada agresi itu menuju saluran yang aman, dan olahraga merupakan salah satu saluran teraman itu.
Sigmund Freud juga melihat olahraga sebagai cara mencegat agresi. Dalam teorinya, manusia memiliki instink kematian yang membangun bagian dalam diri manusia yang intinya hal itu harus dicegat, baik secara batiniah (tindakan menghancurkan diri sendiri) maupun lahiriyah. Karena manusia tak selalu memiliki peluang dapat diterima secara sosial untuk mengarahkan agresi itu secara lahiriyah, maka manusia memindahkannya ke saluran yang dapat diterima. Olahraga adalah yang sempurna: manusia dapat mengeluarkan semua agresinya dari sistem diri baik dengan berpartisipasi sebagai pemain ataupun hanya menontonnya; cara itu membersihkan agresi dari diri manusia.
Tanpa bermaksud menolak dorongan biologis sebagai sumber agresi, beberapa pemikir berfokus pada konteks dalam mana agresi diwujudkan. Beberapa lingkungan terlihat memiliki potensi lebih banyak untuk menimbulkan perilaku agresi dibandingkan lingkungan lainnya. Lingkungan kompetitf olahraga acapkali menyediakan banyak isyarat agresi. Olahraga merupakan peleburan frustasi: ada individu yang mengejar tujuannya semnentara individu lain mencoba menghentikannya. Beberapa teori menyatakan bahwa frustasi menciptakan kesiapan bagi perilaku agresi.
Hipotesis frustasi-agresi menegaskan bahwa ketika perilaku pemenuhan tujuan tertentu dihalangi, dorongan agresifpun muncul. Frustasi lebih kuat, dorongan agresi juga lebih kuat. Hipotesis tersebut diperkenalkan sebagai alternatif teori agresi yang berdasarkan karakteristik bawaan. Sarjana seperti John Dollard menolak gagasan perilaku manusia diprogram oleh alam dan berpendapat bahwa cara kita bertindak merupakan hasil rangsangan dalam dunia tentang kita – frustasi menjadi rangsangan yang menghasilkan perilaku agresif. Tak seperti Lorenz, Freud dan pemikir lainnya yang menggambarkan kompetisi olahraga sebagai katarsis, membiarkan semua energi agresif untuk mengalir keluar, teoris frustasi-agresi menafsirkan olahraga sebagai mempertinggi kemungkinan agresi. Frustasi tak terelakkan dari kompetisi apapun. Selain bisa menjelaskan kenapa agresi dalam berbagai bentuknya nampak dalam olahraga, hal ini juga menyisakan permasalahan agresi penonton yang belum terpecahkan.
Kajian Robert Arms dkk di tahun 1987, “Pengaruh pada Permusuhan Penonton yang Menyaksikan Olahraga Agresif” menyimpulkan bahwa “observasi agresi pada medan permainan semakin meningkatkan permusuhan di antara sebagian penonton”. Mengapa? Antara model yang menghargai perilaku agresif dan model yang memusuhinya, dua-duanya bisa diikuti dan ditiru. Penelitian di tahun 1960an yang sebagian besar dilakukan Albert Bandura, mengungkap peran penting peniruan dalam membentuk perilaku manusia. Jelasnya mengamati perilaku agresi dapat mempengaruhi perilaku kita, jika agresi itu secara positif disetujui dalam satu atau lebih cara, maka pengamatpun juga akan bersikap sama.
Eksperimen pemodelan terkenal Bandura dengan boneka Bobo termasuk meminta kepada kelompok anak-anak untuk menyaksikan model agresif yang menyerang boneka Bobo atau memperlakukannya dengan baik. Kecenderungan anak-anak adalah meng-copy model yang mereka amati, terutama ketika mereka menyaksikan model agresif yang diberi hadiah atas penyerangannya. Bandura menyimpulkan dari eksperimennya ini dan eksperimen lainnya bahwa manusia belajar agresi dan dalam arti ini pembelajaran tersebut lebih merupakan fenomena sosial daripada natural. Temuan ini berbeda total dengan apa yang diyakini kebanyakan pelatih dan pemain (senada dengan Lorenz) bahwa olahraga merupakan cara tepat untuk melepas agresi dari sistem natural manusia. Agresi tak pernah ada di sana, menurut teoris pembelajaran sosial: manusia memperolehnya selama interaksinya dengan yang lain. (Secara ringkas, olahraga merupakan jalan keluar bagi agresi dalam pendekatan berbasis biologis, suatu faktor mediasi dalam hipotesis frustasi-agresi, dan olahraga sebagai lingkungan dalam mana agresi diperoleh dalam teori pembelajaran sosial).
Hal ini tidak mengabaikan frustasi: dalam teori pembelajaran sosial, frustasi merupakan satu di antara sekian pengalaman yang mengarah pada kegairahan emosional. Namun hal lain seperti ketidaknyamanan fisik atau keadaan yang menyenangkan juga bisa menjadi pemicu kegairahan itu, misalnya dansa di klab. Digairahkan dengan gerakan fisik dansa dan perasaan yang sehat bugar, seseorang bisa menjadi agresif terhadap orang lain yang kebetulan menggeser tempatnya atau menumpahkan minuman kepadanya. Beberapa studi mengindikasikan bahwa kegairahan emosional, apapun sumbernya, dapat meningkatkan agresi ketika prasyarat stimulus itu ada. Konsekuensi atau reaksi ke arah agresi dapat sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku ke depannya.
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, kebanyakan agresi dalam olahraga adalah instrumental, atau terarah ke tujuan lainnya, dengan sedikit kemungkinan bahwa rasa takut memicu agresi (ketika atlet yang normalnya lembut diserang oleh musuh yang agresif, mengalami desakan adrenalin dan kemudian berjuang daripada melarikan diri). Apakah sumbernya dipahami sebagai natural ataukah dimensi sosial, pentingnya konteks tak dapat disangkal: agresi secara khusus muncul dalam pencapaian tujuan. Dua atlet yang bermusuhan secara agresif selama pertandingan bisa jadi tampak lepas satu sama lain dengan saling mengolok-olok ketika bertemu di pusat perbelanjaan atau di warung. Hal sama juga terjadi pada penggemarnya. Bagaimanapun agresi dalam olahraga dimengerti, signifikansi konteks dengan mana agresi itu diekspresikan tak bisa diabaikan.

B. Kajian Psikologi Sosial

Adalah Charles Darwin, tokoh evolusi biologis yang menyatakan bahwa kekerasan berguna untuk tujuan yang bermanfaat dalam evolusi binatang, karena menyebabkan binatang yang paling kuat dan paling mampu (pemburu dan pencari makan terbaik) bertahan hidup. Awal abad 20, penerapan teori Darwin pada manusia dikenal sebagai Darwinisme Sosial, suatu filsafat yang berpandangan bahwa kemajuan manusia akan terwujud lewat “lestarinya mahluk hidup yang sesuai”. Agresi merupakan kebutuhan biologis, dan ini diterima para praktisi psikologis. Dalam kalimat William James “leluhur kita telah menanamkan sikap suka berperang sampai mendarah daging…di dalam diri manusia terdapat “dua jiwa” – jiwa suka menolong dan berkawan serta jiwa cemburu dan suka bertentangan dengan sesamanya”. Dalam bahasa filsafat, ada dua term paralel dengan ini: “homo homini lupus” (manusia itu serigala bagi sesamanya), dan “homo sacra res homini” (manusia itu saling menolong sesamanya).
Psikolog Inggris William Mc Dougall menyatakan agresi itu “naluri suka berperang” dan itu barangkali faktor terpenting dalam evolusi manusia sebagai mahluk sosial. Penjelasan bersistem tentang agresi pertama kali dilakukan oleh Sigmund Freud. Dua periode pemikiran Freud tentang hal ini:
1. dorongan paling penting pada manusia dan binatang adalah “daya kehidupan (libido)”; Periode pertama pemikiran Freud ini berubah setelah PD I akibat fenomena kekerasan perang.
2. dorongan dasar kedua yang berlawanan dengan yang pertama: keinginan bawah sadar untuk mati. Freud menamainya Thanatos (Yunanai): “kematian”, yang ke dalam diri dinamai masokis/bunuh diri dan yang keluar dinamai agresi.
Dua-duanya diasalkan dari “alam tak-sadar” - istilah ilmiah Freud yang paling orisinil.
Di tahun 1932, pandangan baru Freud tentang “naluri aktif untuk membenci dan merusak” sampai ke Albert Einstein melalui surat. Dalam suratnya, Freud menyatakan pesimis terhadap upaya bebas peperangan. Menurut Freud, agresi harus memiliki pelepasan, diantaranya:
1. mengungkapkan kemarahan secara langsung
2. memindahkan/mengalihkan arah tenaga perusak dari sasaran yang telah membangkitkan emosi agresi ke sasaran lain, yang mungkin berupa benda mati
3. “sublimasi”, yakni proses menyalurkan rangsangan anti sosial ke tujuan yang membangun sehingga terlampiaskan dalam kegiatan politik, ilmiah, seni dsb.
Pandangan Freud, sang pendiri dan dedengkot psikoanalisa, bahwa agresi merupakan bawaan, dan bahwa kegagalan dalam mengungkapkan dorongan agresi (pelepasan) dapat menyebabkan neurosis, penyakit psikomatik dll, banyak dianut psikolog lain.
Sebagian besar laki-laki lebih agresif daripada perempuan, baik secara verbal, fisik dan bahkan dalam berkhayal. Dalam olahraga, Freschlag dan Schmidle menengarai bahwa kebanyakan kekerasan diasosiasikan oleh tim dan oleh laki-laki. Studi biokimia menemukan behwa peningkatan dalam testosteron selama masa remaja dihubungkan secara langsung dengan ukuran-ukuran psikologis agresi dan permusuhan.
Pengetahuan baru tentang otak menyatakan bahwa kemampuan melakukan kekerasan, kemempuan dari dalam untuk berreaksi keras, terletak di “pusat-pusat agresi di otak” (amigdala, talamus dan hipotalamus) yang dapat direkayasa melalui listrik/penghilangan. Kemampuan untuk berreaksi agresi memang tertanam, tetapi perilaku itu sendiri tidak, membutuhkan banyak faktor lain untuk memunculkan perilaku tersebut.
Sebagian besar ilmuwan mengungkapkan ciri bawaan manusia membawa kecenderungan tertentu ke arah pengungkapan emosi dalam bentuk kekerasan, tetapi kecenderungan ini kecil perannya, karena dapat ditekan atau dikembangkan oleh masyarakat atau melalui hasil proses belajar. Meniru itu proses seumur hidup yang dalam mengajarkan kekerasan biasanya diperkuat oleh proses pemberian hadiah atau hukuman. Dalam bahasa David Mantell, “kekerasan tidak muncul dalam kekosongan; kekerasan ditanamkan dengan contoh dan terus menerus diperkuat atau dipadamkan oleh pengalaman”.
Terdapat empat unsur yang biasanya terdapat pada tindakan perilaku manusia, yakni keadaan terbangkit, picu, senjata dan sasaran.
Terbangkitnya emosi meliputi pikiran dan tubuh. Keadaan bangkit emosi tidak hanya merupakan petunjuk kemarahan, tapi juga ketakutan, kegembiraan, gairah seks (kegiatan fisik) – hampir apa saja yang menyebabkan tubuh bersiaga untuk usaha khusus (denyut jantung dan pernafasan lebih cepat, wajah mungkin memerah, tangan gemetar dan berkeringat, dsb).
Zillmann mengatakan bahwa gelora emosi erotik (cinta) dengan mudah dapat diubah menjadi reaksi agresi. Dipahami secara biologis, ini terjadi karena pusat syaraf dalam otak tentang seks dan agresi mengelompok sangat dekat.
Bangkitnya emosi dapat diasalkan dari tiga keadaan: rasa nyeri, ancaman dan frustasi. Pernyataan John Dollard dkk, bahwa agresi selalu merupakan kelanjutan daeri frustasi, tampaknya perlu untuk diperbaiki.
Picu yang menyulut ledakan agresi adalah peristiwa yang menyebabkan terbangkitnya emosi yang lalu berubah menjadi ledakan kekerasan. Mungkin saja picu ini tidak ada sangkut pautnya dengan hal-hal yang menyebabkan bangkitnya emosi/frustasi.

Senjata lebih daeri sekedar alat utama, tetapi juga sebab dari kekerasan, membangkitkan dan mencetuskannya (bahkan bisa kekerasan yang berrantai dan meluas). Senjata bisa berupa pentungan, pistol, sepeda motor, dsb.

Sifat sasaran, terutama menurut pemikiran agresor, terkait erat dengan terjadi atau tidaknya tindak agresi, dan bila terjadi, apa bentuk agresi itu. Mekanisme “pengalihan” ala Freud berperan sebagai pengganti sasaran yang terbukti sulit dicapai.
Kekerasan yang melibatkan kelompok hampir selalu lebih mudah berkobar luas daripada bentrok perseorangan. Ini bukan hanya karena pihak yang terlibat lebih banyak dan siap untuk saling melukai, tapi juga karena perilaku orang akan lain jika berada dalam kelompok. Mereka mau melakukan agresi dan kekerasan, yang bila di luar kelompok oleh mereka dirasa sebagai kengerian. Kelompok memberi mereka keadaan anonim: “deindividuasi” = peniadaan diri individu dalam kelompok, dan ini merupakan selubung pelindung sehingga mereka merasa lebih leluasa melakukan kekerasan dan lebih kecil keinginannya untuk dihukum atau merasa bersalah. Menjadi anggota kelompok merupakan sarana penghalalan kekerasan, sebab ada alasan masuk akal bagi kekerasan dengan dalih pengabdian pada tujuan yang lebih tinggi. Tujuan lebih tinggi dalam kelompok misalnya agama, ras, ideologi, politik, dan harga diri kelompok.
Freedmann dkk mengatakan, “semakin anonim anggota kelompok, semakin kurang mereka merasakan bahwa mereka memiliki identitas sendiri, dan semakin tak bertanggung jawab perilaku mereka”. Individu dalam kelompok mendapat tekanan agar meneyesuaikan diri dengan aturan kelompok mengenai perilaku, agar patuh pada kekuasaaan kelompok dan ikut serta dalam tindak agresi terhadap pihak yang menjadi sasaran prasangka dan kebencian kelompok. Bahkan, menurut Zimbardi, sampai taraf tertentu keagresifan orang itu dipengaruhi oleh anggapannya tentang apa harapan kelompok terhadap dia. Bahkan terkadang juga menyebabkan orang baik-baik tak mau menolong korban suatu musibah. Ini merupakan penyakit zaman kini: acuh tak acuh, keterasingan (alienasi) dan masa bodoh. Erich Fromm banyak menguak patologi sosial seperti ini.
Blaise Pascal (filsuf Perancis abad 17) mengatakan “belum pernah ada kejahatan yang dilakukan dengan begitu tandas atau sempurna selain kalau kejahatan itu dilakukan demi tujuan yang baik”. Suatu ironi ketidakberesan perilaku umat manusia yang amat perlu direnungkan gradasi resiko sosialnya (perilaku “politik” tingkat grass root paling banyak membuktikan hal ini)…Kesetiaan pada tujuan menuntut disisihkannya kebebasan…©
REFERENSI
Gill, D.L. 2000. Psychological Dynhamics of Sport and Exercise, 2nd edition, Champaign IL. Human Kinetics.
Husman, B.F., and Silva, J.M., 1984. “Aggression in Sport: Definitional and Theoretical Considerations”, hal. 246-60 dalam Silva, J.M. dan Weinberg, R.S. (ed.), Psychological Foundation of Sport, Champaign IL. Human Kinetics.
Isberg, L. 2000. “Anger, Aggressive Behavior, and Athletic performance”, hal. 113-33 dalam Hanin, Y.L., (ed.) Emotions in Sport, Champaign IL. Human Kinetics.
Cashmore, Ellis. 2002. Sport Psychology: The Key Concepts. London: Routledge.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar