16 Mei 2011

9 KECEMASAN DALAM OLAHRAGA

MATERI 9
KECEMASAN ATLET
A. Latar Belakang Masalah
Ronge (dalam Setyobroto, 2002) menyebutkan manusia sebagai suatu organisme, sering mengikuti hukum-hukum biologi, hukum-hukum alam pikir, rasa keadilan dan sebagainya. Perasaan atau emosi memegang peranan penting dalam hidup manusia. Semua gejala emosional seperti rasa takut, marah, cemas, stres, penuh harap, rasa senang dan sebagainya dapat mempengaruhi perubahan-perubahan kondisi fisik seseorang. Perasaan atau emosi dapat memberi pengaruh-pengaruh fisiologik seperti ketegangan otot, denyut jantung, peredaran darah, pernafasan dan berfungsinya kelenjar-kelenjar hormon tertentu.

Kecemasan akan timbul jika individu menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam dan menekan (Pangaribuan, 2001). Misalnya saja, apabila seseorang ingin melaksanakan atau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang baru, maka tentu orang tersebut akan merasa cemas dalam menghadapi pekerjaannya tersebut, apakah orang itu dapat melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan hasil yang baik atau bahkan sebaliknya.
Dalam kondisi dimana rasa cemas menghinggapi pikiran seseorang, tentunya orang tersebut akan berpikiran atau berangggapan yang negatif terhadap dirinya sendiri. Seperti misalnya, “pasti saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik”; “pasti saya berhenti mengerjakan pekerjaan tersebut di tengah jalan”; “pasti hasilnya tidak memuaskan”; “pati saya dicemooh orang bayak”; dan sebagainya.
Kecemasan sampai pada batas tertentu merupakan hal yang normal bagi setiap orang. Mungkin seseorang merasa khawatir akan sesuatu atau orang lain karena Ia pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan pada kejadian serupa dimasa lampau. Kecemasan dalam taraf “normal” dapat berfungsi sebagai system alarm yang memberikan tanda-tanda bahaya bagi seseorang yang mengalaminya untuk dapat lebih siap menghadapi keadaan yang akan muncul (Gunarsa dkk., 1996).
Menurut Gunarsa dkk, (1996), makin lama kecemasan berlangsung dan makin tinggi intensitasnya, maka makin “abnormal” kondisi orang tersebut. Jika seseorang berada pada daerah yang sedang terjadi perang, sekalipun ia tidak terkena musibah, tetapi jika ia mengalami kecemasan, hal ini masih dianggap “normal”. Jika seseorang yang sudah belajar dengan tekun, berlatih dengan giat, tidak mengalami gangguan fisik apapun tetapi ia merasa cemas akan kegagalan secara berlebihan dalam menjalankan tugasnya, maka kecemasannya itu tidak sepadan dengan keadaan yang ada. Hal tersebut dianggap “tidak normal”.
Pahlevi (1991), mendefinisikan kecemasan sebagai suatu kecendrungan untuk mempersepsikan situasi sebagai ancaman dan akan mempengaruhi tingkah laku. Handoyo (1980), mendefinisikan kecemasan sebagai suatu keadaan emosionil yang dialami olah seseorang, dimana ia merasa tegang tanpa sebab-sebab yang nyata dan keadaan ini memberikan pengaruh yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan perubahan-perubahan pada tubuhnya baik secara somatis maupun psikologis. Perubahan-perubahan somatis yang dimaksud yaitu mungkin timbulnya rasa mual, sering buang air kecil, denyut jantung yang bertambah keras dan lain-lain. Sedangkan perubahan-perubahan psikologis dapat ditemui seperti adanya perasaan ragu-ragu, kurang percaya diri, kegelisahan, rasa rendah diri dan lain-lain. Gunarsa dkk, (1996) menjelaskan bahwa kecemasan berbeda dengan ketakutan. Pada gejala takut objek atau bahaya yang ditakuti jelas, nyata. Seperti misalnya takut pada kecoa, kucing, ondel-ondel, anjing, ular dan sebagainya. Sedangkan pada kecemasan, objek atau keadaan (bahaya) yang dikhawatirkan tidak jelas, tidak nyata.
Gejala kecemasan ada dalam bermacam-macam bentuk dan kompleksitasnya, namun biasanya cukup mudah dikenali. Seseorang yang mengalami kecemasan cenderung untuk terus menerus merasa khawatir akan keadaan yang buruk yang akan menimpa dirinya atau diri orang lain yang dikenalnya dengan baik. Biasanya seseorang yang mengalami kecemasan cenderung tidak sadar, mudah tersinggung, sering mengeluh, sulit berkonsentrasi dan mudah terganggu tidurnya atau mengalami kesulitan untuk tidur (Gunarsa dkk., 1996).
Penderita kecemasan sering mengalami gejala-gejala seperti berkeringat berlebihan walaupun udara tidak panas dan bukan karena berolahraga, jantung berdegup ekstra cepat atau terlalu keras, dingin pada tangan atau kaki, mengalami gangguan pencernaan, merasa mulut kering, merasa tenggorokan kering, tampak pucat, sering buang air kecil melebihi batas kewajaran dan lain-lain. Mereka juga sering mengeluh pada persendian, kaku otot, cepat merasa lelah, tidak mampu rileks, sering terkejut, dan ada kalanya disertai gerakan-gerakan wajah atau anggota tubuh dengan intensitas dan frekuensi berlebihan, misalnya pada saat duduk terus menerus, menggoyang-goyangkan kaki, meregangkan leher, mengernyitkan dahi dan lain-lain (Gunarsa dkk., 1996).
Kondisi-kondisi yang menekan dapat menimbulkan kecemasan. Contohnya, terdapat pada situasi ketika menghadapi sebuah ujian, seperti ujian kelulusan, ujian masuk perguruan tinggi dan sebagainya. Juga terlihat pada situasi persidangan, wawancara pada saat melamar kerja, perlombaan-perlombaan, seperti lomba nyanyi, lomba pidato, lomba puisi dan sebagainya. Selain itu, dapat pula terlihat pada situasi menghadapi sebuah pertandingan olahraga, khususnya olahraga prestasi.
Pada umumnya, membicarakan olahraga prestasi tidak terlepas dari pembicaraan mengenai pertandingan. Hal itu disebabkan karena hampir dalam setiap kegiatan olahraga itu selalu tertuang dalam bentuk pertandingan-pertandingan untuk mengetahui prestasi yang dicapai oleh seorang atlet. Kegiatan olahraga prestasi selalu mengandung unsur persaingan atau kompetisi yang diakhiri dengan penilaian “menang-kalah” terhadap pihak-pihak yang ikut serta dalam pertandingan tersebut. Adapun kompetisi itu dirumuskan oleh Sjariffudin (1987, dalam Pahlevi, 1991) sebagai suatu pertandingan untuk menentukan kejuaraan atau prestasi.
Seorang atlet yang bertanding dalam situasi kompetisi dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor fisik dan psikologis. Faktor fisik tersebut seperti kondisi gizi, kemampuan fisik, struktur tubuh, kesehatan atlet dan sebagainya. Sedangkan faktor psikologis yang mempengaruhi seorang atlet dalam situasi kompetisi adalah rasa cemas. Oleh karena situasi kompetisi ini, dalam derajat yang berbeda akan dirasakan oleh atlet sebagai situasi yang menekan atau menegangkan yang pada gilirannya dapat memberikan dampak penampilan dan atau menurunkan prestasinya (Pahlevi, 1991).
Berdasarkan pengamatan, pada situasi menghadapi pertandingan bola basket, sering ditemui pemain basket yang sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi suatu pertandingan, mendadak sakit perut, sering ke toilet (buang air kecil), berkeringat dingin, bergerak atau berjalan mondar-mandir, muka pucat, menggoyang-goyangkan kaki atau tangan dan sebagainya. Dimana hal semacam itu menunjukkan adanya gejala kecemasan yang perlu segera diatasi, karena kondisi tersebut akan sangat menghambat usaha pemain basket itu sendiri untuk dapat tampil secara maksimal dan mencapai prestasi yang diharapkan berdasarkan usaha latihan keras yang telah dilakukannya dalam berhari-hari, berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar